Serangan Bom Ungkap Konflik dalam Tubuh Pemerintah Sri Lanka

Sri Lanka baru saja mendapatkan teror bom pada Minggu (21/4) lalu. Terdapat tiga gereja dan tiga hotel yang menjadi sasaran teror bom. Akibat dari teror bom tersebut terdapat 359 korban tewas dan 500 orang luka-luka. Sampai sejauh ini, pihak Sri Lanka terus berupaya melakukan penyelidikan untuk mengungkap teror bom mengerikan tersebut. Pihak berwenang sendiri menilai terdapat dua kelompok lokal yang bertanggung jawab atas teror ini. Namun, masih belum diketahui apakah kelompok itu memiliki koneksi dengan organisasi internasional. Serangan itu sendiri juga mampu mengungkap adanya dugaan konflik serius antara Perdana Menteri dengan Presiden Sri Lanka.

Konflik yang terjadi di dalam tubuh pemerintah Sri Lanka ini telah terjadi sejak tahun lalu. Akibat dari konflik tersebut ternyata berdampak pada penanganan serangan terorisme seperti yang terjadi hari Minggu lalu. Sebelum terjadinya serangan bom, intelijen India sebenarnya telah mengirim beberapa laporan akan kemungkinan terjadinya serangan bom di gereja dan hotel di Sri Lanka. Menteri Kesehatan Sri Lanka, Rajith Senaratne mengaku telah menanyakan soal laporan tersebut kepada intelijen, tetapi Perdana Menteri mengatakan tidak mengetahui soal adanya laporan tersebut. Laporan dari intelijen sendiri baru muncul sehari setelah terjadinya teror bom pada hari Minggu. Laporan tersebut memang berisi informasi akan terjadinya teror bom di gereja dan beberapa hotel saat perayaan hari Paskah. Laporan tersebut juga menyebut adanya kelompok lokal yang terlibat yaitu National Thawheed Jama’ut (NTJ). Sementara itu, masih belum diketahui apakah Presiden Sri Lanka, Maithripala Sirisena tahu atau tidak soal dokumen intelijen tersebut. Namun, Dewan Keamanan seharusnya melaporkan hal tersebut kepadanya. Presiden Sirisena sendiri sedang melakukan perjalanan luar negeri ketika serangan bom bunuh diri terjadi.

Senaratne menambahkan bahwa Perdana Menter, Ranil Wickremesinghe sudah tidak pernah diundang dalam rapat Dewan Keamanan setelah berkonflik dengan Sirisena. Presiden Sirisena sendiri sempat memecat Wickremesinghe sebagi PM pada Oktober 2018. Pemecatan tersebut didasari atas perbedaan kepentingan politik antar keduanya. Namun, Sirisena mengaktifkan kembali Wickremesingh sebagai PM beberapa pekan kemudian karena mendapat tekanan dari Mahkamah Agung. Akibat dari konflik tersebut, hubungan antara Presiden dan PM Sri Lanka masih belum pulih hingga berdampak pada pengambilan keputusan kebijakan pemerintah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *